Menampilkan 12 dari 227 do’a.
Ucapan Terkait Hari Raya.
Ucapan Selamat Hari Raya
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Latin
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum.
Artinya
Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.
Sumber dan keterangan
Ucapan Terkait Hari Raya
Ucapan Selamat Hari Raya
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum.
Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.
Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan, "Dari Jubair bin Nufair, beliau mengatakan, Dahulu, apabila para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saling bertemu pada hari raya, mereka saling mengucapkan: (ucapan di atas)." (Sanadnya hasan. Fathul Bari, 2:446).
Ibnu Aqil menyebutkan beberapa riwayat. Di antaranya dari Muhammad bin Ziyad, beliau mengatakan, "Saya pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu dan beberapa sahabat lainnya. Setelah pulang dari shalat id, mereka saling memberikan ucapan: (ucapan di atas)." (Al-Mughni, 2:250. As-Suyuthi mengatakan, "Sanadnya hasan.").
Imam Malik ditanya tentang ucapan seseorang kepada temannya di hari raya: (ucapan di atas), atau "Ghafarallaahu lana wa laka." Beliau menjawab, "Saya tidak mengenalnya dan tidak mengingkarinya." (At-Taj wal Iklil, 2:301).
Ibnu Habib menjelaskan maksud ucapan Imam Malik, "Maksud beliau, saya tidak menganggapnya sebagai sunnah dan saya tidak mengingkari orang yang mengucapkannya, karena ucapan itu isinya baik, mengandung doa…" (Al-Fawakih Ad-Dawani, 3:244).
Syekh Asy-Syabibi mengatakan, "Bahkan, wajib mengucapkan ucapan selamat ketika hari raya, jika tidak mengucapkan kalimat ini menyebabkan permusuhan dan terputusnya hubungan sesama…" (Al-Fawakih Ad-Dawani, 3:244).
Ibnu Habib mengatakan, "Yang semisal dengan ini adalah ucapan sebagian orang ketika id, 'Iid Mubaarak' (Id yang diberkahi), 'Ahyaakum' (Semoga Allah memberi keselamatan bagimu), dan semisalnya. Tidak diragukan, bahwa ini semua diperbolehkan." (Al-Fawakih Ad-Dawani, 3:244).
Syaikhul Islam mengatakan, sebagai jawaban atas pertanyaan yang ditujukan kepada beliau, "Ucapan selamat di hari raya antara satu sama lain setelah shalat id (seperti: (ucapan di atas) atau 'ahalallaahu 'alaika' dan semacamnya) maka ucapan ini diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa mereka melakukannya. Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad dan yang lainnya, juga memberi keringanan…" (Majmu' Fatawa, 5:430).
Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Tidak mengapa hukumnya bila seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat Idul Fitri: (ucapan di atas)." Demikian yang dinukil Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya, "Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya sebagaimana banyak diucapkan oleh orang-orang? Seperti 'Indaka Mubarak (semoga engkau memperoleh barakah di hari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat bagaimana seharusnya ucapan yang benar?"
Beliau rahimahullah menjawab, "Adapun hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya yang diucapkan satu dengan yang lainnya ketika selesai shalat ied seperti 'Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, wa ahalahullaahu 'alaik' (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu), dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam Ahmad berkata, "Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun. Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena menjawab tahiyyah (penghormatan) adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada orang lain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah (teladan). Wallahu a'lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228).
Syaikh Ibnu Ustaimin ditanya, "Apa hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya? Apakah ada bentuk ucapan tertentu?" Beliau rahimahullah menjawab, "Hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya adalah boleh dan tidak ada bentuk ucapan tertentu yang dikhususkan. Karena (hukum asal-pen) setiap adat kebiasaan yang dilakukan orang itu boleh selama bukan perbuatan dosa."
Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah juga ditanya, "Apa hukum berjabat tangan, berpelukan dan saling mengucapkan selamat hari raya ketika selesai shalat ied?" Beliau rahimahullah menjawab, "Hukum semua perbuatan ini tidaklah mengapa. Karena orang yang melakukanya tidak bermaksud untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla. Melainkan hanya sekedar melakukan adat dan tradisi, saling memuliakan dan menghormati. Karena selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya boleh." (Majmu'Fatawa Ibni Utsaimin, 16/ 208-210).
Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-idul-fitri dan http://muslimah.or.id/fikih/ucapan-selamat-di-hari-raya.html
#umum
Ucapan Terkait Hari Raya.
Doa Menyembelih Hewan Kurban
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ (اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ) اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ
Latin
Bismillaah, wallaahu akbar. Allaahumma minka wa laka. Allaahumma taqabbal minnii.
Artinya
Dengan nama Allah (aku menyembelih), Allah Maha Besar. Ya Allah, (ternak ini) dariMu (nikmat yang Engkau berikan, dan kami sembelih) untukMu. Ya Allah, terimalah kurban ini dariku.
Sumber dan keterangan
HR. Muslim 3/1557, Al-Baihaqi 9/287, sedangkan kalimat di antara dua kurung, menurut riwayat Al-Baihaqi 9/287. Sedangkan yang terakhir, kami ambilkan dari riwayat Muslim.
Sumber: Hisnul Muslim.
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Menolak Firasat Buruk/Sial
اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ غَيْرُكَ
Latin
Allaahumma laa thoiro illaa thoiruk, wa laa khoiro illaa khoiruk, wa laa ilaaha ghoiruk.
Artinya
Ya Allah, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.
Sumber dan keterangan
HR. Ahmad 2/220, Ibnus Sunni no. 292, dan lihat Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1065.
Sumber: Hisnul Muslim.
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Hilangnya Nikmat, Berubahnya Kesehatan/Keselamatan, Siksa Dan Murka Allah
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika min zawaali ni'matik, wa tahawwuli 'aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii'i sakhathik.
Artinya
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.
Sumber dan keterangan
HR. Muslim no. 2739.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata, “Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: (doa di atas).”
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Beratnya Cobaan, Kesengsaraan Yang Hebat, Keburukan Takdir Dan Kegembiraan Musuh
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَقَاءِ، وَسُوءِ القَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika min jahdil balaa', wa darokisy-syaqoo', wa suu-il qodhoo', wa syamaatatil a'daa'.
Artinya
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, keburukan takdir dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpaku.
Sumber dan keterangan
HR. Al-Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707. Muttafaqun ‘alaih.
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Sifat Lemah, Malas, Pengecut Dan Pikun
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi.
Artinya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, pengecut/rasa takut dan pikun.
Sumber dan keterangan
HR. Muslim no. 2706.
Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=431129640269564&id=113035155412349
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Sifat Malas, Pengecut/Lemahnya Hati, Pikun/Usia Tua Dan Kikir
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika minal kasali, wa a'uudzu bika minal jubni, wa a'uudzu bika minal haromi, wa a'uudzu bika minal bukhli.
Artinya
Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit).
Sumber dan keterangan
HR. Bukhari. Bukhari: 83-Kitab Ad Da'awaat, 41-Bab Meminta Perlindungan dari Umur yang Sulit Untuk Beramal.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan melalui doa: (doa di atas).
Sumber: BBG Al-Ilmu (BlackBerry Group)
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Sifat Lemah, Malas, Pengecut, Pikun, Kikir, Siksa Kubur Dan Fitnah Kehidupan Dan Kematian
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ، وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhli, wa a'uudzu bika min 'adzaabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaati.
Artinya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, pengecut/rasa takut, pikun/kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta fitnah/bencana kehidupan dan kematian.
Sumber dan keterangan
HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca doa: (doa di atas).
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Sifat Malas, Pikun, Dosa, Hutang, Fitnah Dan Azab Kubur, Fitnah Dan Azab Neraka, Fitnah Kekayaan Dan Kemiskinan Dan Fitnah Dajjal
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ، وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika minal kasali wal haromi, wal ma'tsami wal maghromi, wa min fitnatil qobri wa 'adzaabil qobri, wa min fitnatin-naari wa 'adzaabin-naari, wa min syarri fitnatil ghinaa, wa a'uudzu bika min fitnatil faqri, wa a'uudzu bika min fitnatil masiihid-dajjaal.
Artinya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan pikun/usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal.
Sumber dan keterangan
HR. Bukhari 6368.
Sumber: https://konsultasisyariah.com/21758-kumpulan-doa-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
#harta
#hutang
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Sifat Pengecut, Pikun, Fitnah Dunia Dan Azab Kubur
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika minal jubni, wa a'uudzu bika an urodda ilaa ar-dzalil 'umuri, wa a'uudzu bika min fitnatid-dunyaa, wa a'uudzu bika min 'adzaabil qobr.
Artinya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.
Sumber dan keterangan
HR. Bukhari 2822.
Sumber: https://konsultasisyariah.com/21758-kumpulan-doa-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Berlindung Dari Keburukan Amal
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ
Latin
Allaahumma innii a'uudzu bika min syarri maa 'amiltu, wa syarri maa lam a'mal.
Artinya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat.
Sumber dan keterangan
HR. Muslim 2716.
Sumber: https://konsultasisyariah.com/21758-kumpulan-doa-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
#umum
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Agar Musibah Tidak Menimpa Agama Dan Agar Dunia Bukan Sebagai Tujuan
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Latin
Wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj'alid-dunyaa akbaro hamminaa, wa laa mablagho 'ilminaa.
Artinya
(Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah pada kami menimpa agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kemewahan) sebagai cita-cita terbesar kami, jangan juga sebagai tujuan utama dari ilmu kami.
Sumber dan keterangan
Doa Berlindung Dari Keburukan
Doa Agar Musibah Tidak Menimpa Agama Dan Agar Dunia Bukan Sebagai Tujuan
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj'alid-dunyaa akbaro hamminaa, wa laa mablagho 'ilminaa.
(Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah pada kami menimpa agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kemewahan) sebagai cita-cita terbesar kami, jangan juga sebagai tujuan utama dari ilmu kami.
HR. At-Tirmidzi V/528 no.3502, An-Nasa'I dalam As-Sunan Al-Kubro VI/106, Al-Hakim I/528 dan Ibnu As-Sunny dalam Amalul Yaum wa Al-Lailah no.445. Derajat hadits tersebut hasan (baik), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih Sunan At-Tirmidzi III/168 no.2783 dan Shohih Al-Jami’ I/400.
Keterangan:
Makna “Janganlah Engkau jadikan musibah pada kami menimpa agama kami”: janganlah Engkau menimpakan kepada kami suatu musibah yang menyebabkan berkurang atau hilangnya agama dan keimanan kami, seperti musibah berbuat kemurtadan, kemusyrikan dan kekufuran, atau memiliki keyakinan yang sesat dan batil, atau melalaikan kewajiban dan bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, melakukan hal-hal yang haram, atau berkuasanya orang-orang kafir dan munafik atas kaum muslimin dsb.
Demikianlah maksud doa Nabi di atas, karena musibah dalam urusan agama merupakan sebesar-besarnya musibah yang menimpa seorang hamba di dunia, dan hal ini akan menyebabkan kesengsaraan dan kebinasaannya di akhirat kelak.
Sumber: https://abufawaz.wordpress.com/2013/02/01/musibah-terbesar-adalah-musibah-yang-menimpa-agama-seorang-hamba
#musibah
#kabar